Selalulah Mengistimewakan Dirimu

sumber foto: www.sketsastra.blogspot.co.id
Cara yang terbaik untuk menyukai sesuatu adalah dengan mengistimewakannya. Coba kita perhatikan, saat isi dompet menipis dan tak bisa membeli tempe dan tahu, hanya kerupuk dan sambal yang bisa kita beli, kerupuk dan sambal itulah yang sangat kita istimewakan, tak peduli dengan lauk yang lain karena memang hanya itu yang bisa kita beli, maka saat kita menikmatinya terasa begitu lezat di lidah. Hal itu karena kita mengistimewakan kerupuk dan sambal tadi, dengan memberikannya tempat yang istimewa dalam hati kita, dalam singgasana bahagia.

Begitulah juga jika kita ingin mengembangkan diri, dengan memaximalkan segala potensi yang kita miliki, kita harus selalu mengistimewakan diri. Artinya kita harus mampu menempatkan diri kita tidak mengucilkannya atau merendahkannya, tempatkan diri kita pada rasa untuk selalu berjuang dan berusaha untuk yang kita cita-citakan, serta nyatakan bahwa diri saya istimewa karena belum tentu apa yang saya bisa, orang lain juga bisa. Tergantung bagaimana kita belajar dan mengistimewakan diri.

Namun, pengistimewaan diri bukan hanya soal merasa bisa, akan tetapi kita harus merasa tabah dalam setiap perjuangan, karena kita telah berkomitmen bahwa diri saya adalah istimewa berarti kita akan selalu merasa bisa, dan untuk mewujudkan perasaan merasa bisa kita harus selalu tabah, untuk itulah dalam mengistimewakan diri kita masih merasa bisa, untuk menjadi bisa kita perlu ketabahan. Jadi, dalam mengistimewakan diri kita harus juga selalu tabah dalam merasa bisa.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam mengistimewakan diri adalah tidak berlebih-lebihan dalam merasa bisa, kita harus mengetahui konteksnya dengan kemampuan kita, agar kita tidak bertindak konyol dalam mengistimewakan diri, hal itu sangat penting kita perhatikan karena jika tidak, keistimewaan diri hanya akan terbalik menjadi keterpurukan diri. Maka, sebelum kita ingin mengistimewakan diri kita harus mengetahui konteks lingkungan dengan kemampuan kita, karena sejatinya keistimewaan diri lahir dari olah pikir dan olah hati yang matang.

Seperti halnya martabak istimewa, ada perpaduan coklat dan adonan yang lembut yang membuatnya istimewa. Begitupun yang harus kita lakukan dalam mengistimewakan diri, padukan antara olah pikir dan olah hati, olah pikir itulah yang akan menjadi lezat seperti coklat dan olah hati itulah yang akan menjadi lembut seperti adonan martabak, jika kedua olah itu telah menyatu dengan baik maka keistimewaan diri kita akan tampak nyata, seperti martabak yang melebur begitu lezat saat telah sampai di lidah.

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan ketika telah mampu mengistimewakan diri, yaitu hidup dalam kelegaan. Kita akan selalu merasa lega karena diri kita istimewa, penyebabnya karena impian yang kita punya tak lagi menjadi penjanggal di hati karena kita telah merasa bisa untuk mewujudkannya atau dalam hal ini telah merasa istimewa di hadapan impian-impian kita tak terkucilkan ataupun tersingkirkan. Kita yakin pasti bisa menggapainya semua impia-impian itu karena diri kita telah menjadi istimewa.

Ketika kita selalu merasa istimewa, hal-hal yang susah akan menjadi mudah, hal-hal yang berat akan menjadi ringan, serta hal-hal yang suram akan menjadi bahagia. Hal-hal itu terjadi karena energi dari dalam diri kita keluar kemudian berubah menjadi energi percaya diri, di saat energi percaya diri inilah rasa istimewa terasa, walau terkadang pada akhirnya kita pun tak bisa. Akan tetapi coba rasakan saat energi percaya diri itu keluar, begitu mudahnya kita mengatakan saya bisakan.

Maka dari itu, mulai dari sekarang mari kita tingkatkan kesadaran dalam mengistimewakan diri, karena pada dasarnya tak ada ciptaan Allah swt yang sia-sia, semua punya berkah jika kita memanfaatkannya dengan baik, tinggal yang perlu adalah bagaimana cara kita mengolah keistimewaan diri kita masing-masing dan cara-cara itu hanya kita sendiri yang tahu, serta hanya kita sendiri yang harus melakukannya, karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita, mau tak mau kita harus mengistimewakan diri apapun alasannya.

Peliharalah Cinta yang Suci dan Abadi

sumber foto: www.pixabay.com
Sebuah kesucian lahir dari sebuah kebersihan yang menyeluruh. Tak ada satu pun yang kotor entah kulit luar ataupun bagian dalamnya, tak ada yang kotor sama sekali semua bersih, berangkat dari hal itu maka tercapailah sebuah kesucian yang dapat menghantarkan pemeliharanya pada sebuah ke abadian. Sebagai contoh, tentang sucinya cinta raja pada istrinya, sepeninggal istrinya sang raja membuatkan sebuah makam yang megah dan tegak berdiri di sana, atau yang kita kenal dengan nama Taj Mahal, itulah salah satu bukti kesucian yang menghantarkan pada keabadian.

Kesucian dan keabadaian bukan hal yang tabu bagi semua orang. Kesucian dan keabadian ini bisa dimiliki oleh setiap insan, karena pada dasarnya setiap manusia diciptakan dalam keadaan suci (fitrah), tak ada yang mengantarainya ataupun mengotorinya, namun terkadang kitalah yang berlagak bodoh menghiasinya dengan bunga-bunga yang telah layu dan tidak harum baunya, berlagak bodoh karena telah merasa bangga akan segalanya, padahal bukan itu, seperti pohon yang kita sukai duduk-duduk di bawahnya, bukan karena pohon itu pohon mangga, pohon pisang, pohon jambu, atau karena berbuah. Akan terapi karena pohon itu rindang dan memberikan kesejukan.

Begitupun dengan cinta yang kita pelihara sekarang, harus suci dan bersih agar cinta yang kita pelihara itu dapat menghantarkan kita pada sebuah keabadian kasih sayang. Tentu langkah awal yang harus kita lakukan adalah dengan tidak saling mendustai antar pasangan, dan jangan sampai sifat dusta terus mengakar dalam cinta yang telah kita pelihara, jika sifat dusta itu telah mengakar maka sifat baik lainnya akan ikut terjangkit.

Maka dari itu, kita harus memangkas sekaligus memunahkan sifat dusta itu dalam cinta kita. Agar tak menjadi parasit perusak bagi kesucian dan keabadian cinta kita, dengan cara menghilangkan sifat ingin enak sendiri, atau ingin untung sendiri, sama saja, sama-sama bodohnya kita jika melakukan hal itu, pertanyaannya, kenapa kita bodoh jika melakukan hal itu padahal kita dapat enak dan untung?, jawabannya disitu, karena kita dapat enak dan untung dengan cara yang bodoh, dengan jalan berdusta, karena hal itu hanya dapat mengotori kesucian penciptaan kita.

Cinta yang suci terpelihara dalam sebuah taman yang dipenuhi dengan kupu-kupu kasih sayang, kupu-kupu kasih sayang selalu terbang dan menaburi bunga-bunga cinta dengan serbuk ketulusan, maka jangan harap taman cinta suci bisa berkembang tanpa adanya kupu-kupu kasih sayang, karenanya semua yang ada di taman cinta akan menjadi indah

Begitupun dengan cinta yang abadi, terpelihara dan terjaga oleh kupu-kupu kasih sayang tadi, akan tumbuh selamanya karena serbuk ketulusan tertebar merata. Oleh karena itu dalam memelihara cinta yang abadi butuh keuletan dan kesabaran karena ada banyak komponen penunjang yang harus ada di dalamnya, dan pasti ada banyak kelelahan yang kita dapatkan saat kita mulai memeliharanya, akan tetapi yakinlah bahwa jika kita tak pernah lelah maka itu berarti tak ada tujuan yang kita perjuangkan.

Maukah kita hidup di dunia ini seperti ruang hampa yang tak ada di dalamnya. Tentu tidak? Karena di dalam setiap doa-doa kita selalu terhatur kebahagiaan dunia dan di akhirat kelak, sebagaimana dalam kebahagiaan dunia dan di akhirat itu, kita membangunnya dalam sebuah cinta yang suci dan abadi, walau hal itu termasuk dalam satu pintu menuju kebahagiaan, akan tetapi jika pintu cinta yang abadi dan suci dapat kita buka, maka semoga pintu-pintu yang lain menuju kebahagiaan dunia dan di akhirat akan ikut terbuka.

Dalan memelihara cinta yang suci dan abadi layaknya kita memelihara sebuah tanaman padi. Petama kita menebar benihnya, kemudian kita pindahkan benih yang telah tumbuh ke pematang sawah yang lebih besar, lalu menanamnya satu persatu, walau harus membungkuk tetapi itu tak jadi masalah, saat benih yang telah tumbuh penuh, maka hamparan daun hijau benih padi yang indah telah mampu membayar sebagian kelelahan kita, namun itu belum cukup, kita harus menjaga benih padi tadi agar tetap tumbuh subur, dan menjaganya dari hama pengganggu serta memupuknya secara rutin. Setelah semua itu selesai, musim panen tiba dan kita akan menuai hasilnya. Begitulah pengibaratan dalam memelihara cinta yang suci dan abadi, semoga kita dapat memahaminya dan mengamalkannya.

Pahami Dirimu Sebagai Manusia

sumber foto: www.catatanharianhukum.blogspot.co.id
Manusia diciptakan bukan tanpa tujuan, namun terkadang sampai sekarang kita belum memahaminya. Tentang semua fungsi organ tubuh kita, berfungsi sebagaimana mestinya, sudahkah kita merasakan fungsi itu dengan lebih nyata, merasakan lebih dalam mata kita untuk melihat, telinga kita untuk mendengar, mulut kita untuk berbicara, tangan kita untuk menyentuh, dan kaki kita untuk melangkah. Secara otomatis kita telah memfungsikannya, tapi apakah kita telah tahu rasanya saat semua itu berfungsi, jika kita masih betanya-tanya, maka renungilah dengan akal dan hati kita.

Contoh sederhananya begini, lihatlah seekor sapi, tatap baik-baik sapi itu, lalu pikirkan dalam hati kita bahwa saya sekarang sedang melihat, dengan begitu kita dapat merasakan fungsi mata kita, lakukan juga pada organ tubuh yang lain, secara terus menerus dengan begitu kita dapat memahami esensi diri kita sebagai manusia. Jika esensi kemanusiaan dalam diri kita telah bisa pahami, maka yakin dan pasti kita tak akan melakukan perbuatan di luar esensi kemanusiaan kita, karena saat kita merasakannya, kita akan memahami betapa berharga karunia Allah swt.

Sifat kemanusiaan jauh lebih murni dari sifat malaikat, tapi jika itu tak difungsikan dengan baik, sifat kemanusiaan yang kita miliki jauh lebih ternoda dari sifat iblis. Tentu kita telah memahami itu bersama, namun, frase tentang manusia adalah tempat kesalahan seringkali kita jadikan tempat perlindungan untuk membenarkan kesalahan yang kita lakukan, padahal yang kesalahan yang dimaksud adalah kesalahan saat kita mengalami ketidaksadaran. Akankah kita ingin terus-terusan menjadi orang yang tidak sadar .

Kesadaran terlahir dari pemahaman yang mendalam. Jadi, jika kita ingin menjadi orang yang sadar, terlebih dahulu pahami diri kita sebagai manusia, kita paham bahwa kebaikan harus kita lakukan, namun terkadang kita sendiri yang tidak mematuhinya. Apakah itu dapat dikatakan sudah paham, tentu belum, sebagaimana saat kita berhitung satu ditambah satu sama dengan dua, tapi terkadang kita menjumlahkan satu ditambah tiga hasilnya juga satu, jika jawaban kita begitu berarti kita belum paham kan.

Untuk memahaminya kita harus melakukan proses yang panjang dan tak mudah. Sebagaimana saat kita ingin memahami cara kerja sebuah rumus matematika, kita harus memahami terlebih dahulu simbolnya-simbolnya, dan memaknainya sebagai angka, agar kita dapat menghitungnya, lalu kita dapat menemukan jawaban pastinya. Begitulah juga proses dalam memahami diri kita sebagai manusia, banyak langkah-langkahnya dan langkah-langkahnya itu adalah kehidupan itu sendiri.

Kehidupanlah yang membuat kita menjadi paham tentang arti sebuah kemanusiaan, yang di dalamnya ada saling berbagi, saling menghargai, saling membantu, saling mencintai, saling memberi kedamaian, serta saling-saling yang baik yang lainnya, bukan saling-saling yang merugikan orang lain. Jadi jika kita ingin memahami arti sebuah kemanusiaan, isilah terus kehidupan dengan kebaikan, percalah akhirnya nanti kita akan memahaminya sendiri.

Adapun langkah awal dalam memahami esensi diri kita sebagai manusia adalah menjadi diri sendiri. Tak perlu kita menjadi seperti orang lain, karena kalau pun kita menjadi orang hebat seperti dia, pada hakikatnya kita belum menjadi orang hebat karena telah meniru orang lain, tak seperti halnya bila kita menjadi diri sendiri, walau yang kita punya sederhana, tapi pada hakikatnya kita tetap hebat karena kita tak meniru orang lain, langkah awal itulah yang harus segera kita mulai. Ayo mulai dari sekarang.

Memulainya dari sekarang, dan seterusnya sampai ke masa yang akan datang. Seterusnya kita akan memahami diri kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah swt dan sebagai khalifah di bumi Allah swt, karena itu di pundak kita terpikul sebuah amanah, amanah diri kita sendiri menjadi manusia. Maka, berat tidaknya sebuah amanah yang kita pikul ini, tergantung dari kita, apakah tak merasa bodoh diri kita, jika yang memikulnya adalah kita sendiri, sedangkan yang memberatkannya adalah kita sendiri juga, konyol bukan, jelasnya adalah pahami diri kita sebagai manusia.

Tetaplah Tersenyum Walau Dunia Sedang Murung

sumber foto: www.senyumlah.com
Di dalam dunia ini, cerah berbarengan gelap, terkadang silih berganti datangnya, kita harus mampu menerima keduanya. Jika tidak, atau hanya salah satunya yang kita terima, cerah dan gelap itu akan berwarna abu-abu, jika hanya cerah yang kita terima itu hanya menyilaukan mata kita, begitupun sebaliknya, jika hanya gelap yang kita terima itu hanya akan membutakan mata kita, olehnya itu keduanya diciptakan sama-sama, dan olehnya juga kita harus menerimanya dengan lapang dada, maksudnya kita tidak usah serius melihatnya, terima dan nikmati saja.

Cerah dan gelap itu adalah bahagia dan derita, tak bisa kita terlalu menginginkannya atau meratapinya, karena bahagia dan derita hanyalah hiasan belaka di kehidupan nyata. Sebagaimana hiasan yang kita punya di rumah, akan tampil cantik bila kita menempatkannya dengan baik, begitupun dengan bahagia dan derita, akan terasa nikmat bila kita menempetkannya di antara hati dan pikiran, letaknya ada pada senyuman, karena tersenyum adalah penyelaras keadaan bahagia dan derita.

Kita ambil contoh tentang cara penempatan bahagia dan derita di senyuman. Saat awan kelabu mulai menyambarkan petir dan guntur, maka jadilah hujan dan kedinginan, maka kita terasa menderita, akan tetapi, cobalah kita tempatkan derita itu dengan baik, misalkan mengambil segelas kopi lalu duduk manis di kursi, nikmati setiap seduhan hangatnya, maka hujan yang tadinya berbunyi gemuruh menjadi bunyi nada-nada sendu yang menemani duduk manis kita, nikmat bukan.

Begitupun dengan bahagia, kita harus jeli menempatkannya, agar mata kita tak disilaukan olehnya. Misalkan, saat kita baru bangun tidur dan membuka jendela kamar kita, terlihat matahari baru terbit setengah, akibatnya udara jadi hangat, agar kita tak terbuai oleh kehangatan itu, keluarlah dari kamar dan sapa orang-orang yang juga baru bangun dari tidurnya, indah bukan. Begitulah penempatan derita dan bahagia, kita tempatkan tepat pada senyum indah kita, senyum tulus kita, dan senyum keikhlasan kita dalam menerima.

Dari bahagia dan derita itu, dunia terkadang murung kepada kita, karena merasa tak ada yang mampu berpihak padanya, lebih jelasnya, kita merasa banyak sekali cobaan dan ujian yang kita hadapi di dunia ini ketimbang bahagia, itu tak masalah biarlah dunia murung, asalkan kita tetap tersenyum. Seperti halnya saat kita melihat film horor, bisa menjadi lucu saat kita tak mempedulikan hantu-hatunya, kita hanya mempedulikan adegan lucunya, maka dengan itu kita akan tertawa sepuasnya, begitulah cara kita untuk tetap tersenyum walau dunia sedang murung.

Akan tetapi, untuk tetap tersenyum saat dunia sedang murung bukan hal mudah untuk kita lakukan, kita harus cuek padanya dulu, karena antara tersenyum dan murung adalah dua keadaan yang saling besebrangan, karena itu kita harus cuek. Artinya tak perlu terlalu menggebu-gebu dalam menghadapi setiap permasalahan hidup, tenang saja, air dilautan tak selamanya berombak, akan ada waktunya untuk tenang, yang baik untuk kita pakai berenang, melihat batu karang dan ikan-ikan yang indah menawan.

Dalam realiatanya kita lebih banyak berteman dengan sedih saat dunia sedang murung pada kita. Padahal, kesedihan kita tak akan berpengaruh pada kemurungan dunia, malah, dunia semakin murung karena ia juga sedih melihat kita, tapi cobalah untuk tersenyum maka dunia juga akan tersenyum, berbaik hatilah pada dunia maka ia akan membawamu ke surga, jangan menambah kesedihannya dengan air mata yang kita punya, beri ia kebahagiaan dengan senyum tulus padanya.

Oleh karena itu, mari teguhkan hati kita dan berusaha untuk selalu tersenyum walau dunia sedang murung. Karena kebahagiaan identik dengan senyuman, murungnya dunia bukan karena ia ingin membuat kita sedih, tapi ingin mengetahui diri kita bahwa kita akan tersenyum ikhlas padanya, dan lama ke lamaan senyum yang kita punya akan menjadi tawa, kemudian menjadi lebih damai, lalu berubahlah menjadi bahagia, serta semua itu tak bisa dibeli dengan uang atau harta benda, mahal harganya karena itu untuk mendapatkan bahagia butuh kesabaran dan waktu lama.

Jadikan Kepribadianmu Seperti Sifat Air

sumber foto: www.qubbikel.com
Jadikan Kepribadianmu Seperti Sifat Air
Bukan hal yang anyal bagi kita, jika air adalah sebuah elemen yang harus ada dan tidak boleh tidak. Air merupakan sumber kehidupan yang tak bisa terbantahkan hadirnya, betapa kering segalanya tanpa air yang membasahi ruang-ruang kehidupan, karena itu di dalam diri manusia, elemen yang bersifat air lebih banyak dalam diri manusia. Namun, sudah berfungsikah air dalam diri kita, untuk menyegarkan, untuk menyejukkan, dan untuk menyuburkan emosi baik dalam diri kita.

Seperti air di lautan, bisa saja kelihatannya tenang tanpa ada ombak. Namun ketahuilah air yang seperti itu di bawahnya sangat dalam lebih dalam yang kita perkirakan, dari sifat air itulah kita jadikan kepribadian, kita harus selalu tenang dalam menyikapi segala problema kehidupan, janganlah kita berombak tanpa ada angin kencang meniup kita, dan cara untuk selalu tenang dalam menyikapi problema hidup adalah dengan membekali diri kita dengan ilmu dan pengetahuan dari segala pandangan, karena begitulah air yang ada di lautan, asalnya banyak dan tertampung di tengah lautan, dan jadilah air lautan yang sangat dalam.

Adapun sifat air yang lain adalah selalu mengalir dari sumbernya, seperti air yang ada di pegunungan, setiap benda yang dilaluinya pasti merasakan basah, kesejukan, dan kesegaran. Dari sifat air itulah kita dapat menjadikannya kepribadian, kita harus selalu mengalir dengan kebahagiaan dan cobaan, karena hal itu berasal dari sumber kita--Allah swt, dan setiap perjalanan kita dalam kehidupan ini, harus selalu memberi kesejukan kepada orang lain, dengan cara memberi yang kita punya, walau hanya senyuman dan tutur kata yang baik.

Bukankah kita sangat rindu dengan rintik hujan, ketika kita mengalami kemarau yang berkepanjangan, begitu resah hati kita saat rintik hujan yang kita tunggu tak kunjung datang. Itulah sifat air yang lain, menjadi seseorang yang dirindukan layaknya rintik hujan ketika musim kemarau datang, namun, untuk melakukannya kita harus jernih dan bening, jauh dari sifat bohong, angkuh, tamak dan semacamnya, karena begitulah air yang dirindukan, kita pasti tak merindukannya ketika air itu busuk dan kotor kan.

Akan tetapi, bukan berarti semua sifat air harus kita jadikan kepribadian, karena air juga mampu melululantakkan suatu perkampung, seperti yang terjadi saat banjir, karena massa air terlalu banyak yang didukung oleh dorongan badai. Artinya, kita tak bisa jadikan sifat air saat banjir menjadi kepribadian, karena hanya dapat mendatangkan keresahan, akibat banyaknya kebanggaan yang kita dapat dan didorong oleh keinginan hawa nafsu belaka, seperti penyebab terjadinya banjir.

Namun, di satu sisi kebanyakan sifat air itu, selalu mencari tempat terendah, walau sebenarnya Ia sangat dibutuhkan, air selalu mengalir dari daratan tinggi ke dataran terendah. Maka, jika kita ingin jadikan kepribadian sifat air itu, kita harus selalu merasa rendah hati, tak ingin disebut sebagai orang hebat, walau orang-orang yang ada disekeliling kita menganggap diri kita sebagai orang hebat atas apa yang kita bisa dan punya, karena begitulah air walau jatuh tercipta di langit, tapi Ia selalu mencari tempat terendah di bumi.

Betapa segar orang-orang yang ada di sekeliling kita, bila kepribadian kita seperti sifat air yang menyejukkan, menyegarkan, dan menyuburkan. Kita selalu bermanfaat bagi orang lain, seperti air yang meredakan rasa haus, yang membersihkan segala yang kotor, dan memadamkan yang terbakar, kita akan selalu bermanfaat ke setiap langkah kehidupan yang kita lalui dan akan selalu membasahi ruang-ruang yang kering.

Namun, sifat air yang utama adalah cair, tak pernah bisa di pegang dan tak pernah bisa diubah wujudnya, tak seperti dengan benda-benda yang lain bisa dirubah sesuai dengan keinginan kita. Namun air tidak, walau kita membekukannya lama ke lamaan akan mencair juga akhirnya, itulah sifat air yang utama, yang harus kita jadikan kepribadian. Artinya dalam menjalani kehidupan yang sebentar ini, kita harus bermanfaat kepada orang lain dengan ikhlas, kita hanya mengharap ridhonya, agar kehidupan yang sebentar ini tak menjadi kehidupan yang sia-sia.

Bukan Tidak Bisa, Kita Hanya Belum Mencoba

sumber foto: www.news.liputan6.com
Bukan Tidak Bisa, Kita Hanya Belum Mencoba
Setiap keberhasilan yang dicapai seseorang adalah pembuktian dari percobaa-percobaan yang pernah dilakukannya sebelumnya. Keberhasilan yang diraihnya bukan hasil dari keburuntungan semata, tetapi telah lama menanggung pahit kerasnya yang pernah dilakukannya sebelumnya, hari ini kita bisa pintar membaca, karena hasil dari percobaan-percobaan kita sewaktu kecil dulu mengeja aksara, butuh waktu memang untuk menyebutnya dengan fasih tapi begitulah maunya untuk mencapai keberhasilan, belum lagi jika kita berbicara tentang menulisnya. Itu jauh lebih rumit bukan.

Percobaan inilah yang terkadang menghantui kita. Kita sebenarnya telah bisa menaiki anak tangga yang kedua, tetapi hantu percobaan itu datang dengan sendirinya dalam pikiran kita, akibatnya kita tak bisa melangkah ke tangga kedua, karena kita harus lari dari hantu percobaan tersebut. Kenapa kita harus lari, padahal cobaan itu tak menggigit, untuk itulah kita harus mencoba se-segera mungkin.

Untuk menepis hantu percobaan yang biasa menghantui kita, caranya adalah dengan memperkuat mental pejuang yang ada dalam diri kita dengan membakar emosi semangat, dan mengatakan bahwa saya bisa mencobanya. Tak perlu kita pikirkan efek samping dari percobaan yang kita lakukan, pokoknya kita coba saja dulu, soal kegagalan biar proses yang menghapusnya, dan mental pejuang itu dapat terbangun melalui keyakinan yang kokoh dalam diri kita, yang mampu membendung terjangan-terjangan keraguan yang akan meredupkan api semangat kita dalam melakukan percobaan mewujudkan cita-cita yang kita impikan.

Pupuklah terus benih semangat kita dalam mewujudkan cita-cita yang telah tumbuh dalam hati kecil kita. Biarkan Ia berkembang dan menjalar kemana-mana, menumbuhi setiap sendi-sendi emosi yang ada dalam diri kita, maka emosi yang ada dalam diri kita tumbuh subur yang tetap kokoh diterpa badai dan dijatuhi butir hujan, terus membuah dan tumbuh tinggi, sehingga hantu percobaan tak bisa menguliti emosi kita karena telah tumbuh kuat mengakar dalam tanah.

Jika sekarang kita telah mundur dari percobaan pertama, sama saja kita telah menarik diri kita sendiri pada lubang kegagalan yang sangat dalam, yang dari lubang itu kita tak bisa naik ke permukaan, dan tak bisa bernafas dalam lubang kegagalan itu, semuanya terasa sesak dan gerah, kita hanya bisa tersimpuh resah dalam lubang kegagalan itu. Maka jangan pernah mundur dari percobaan-percobaan yang ingin kita lakukan, jika kita tak ingin merasakan penyesalan di hari kemudian, penyesalan memang datangnya dari belakang dan juga telah datang di awal percobaan kita. Jika kita berhasil dan terus mencoba maka penyesalan itu akan pergi dan menghilang.

Butuh banyak daun yang harus gugur untuk menghasilkan pucuk bunga yang baru lagi. Begitu pun dengan percobaan dalam mewujudkan cita-cita kita, butuh banyak kegagalan yang harus gugur untuk menghasilkan pucuk keberhasilan dan butuh banyak waktu yang berputar mengelilingi percobaan kita, yang pada akhirnya percobaan kita berhenti pada satu waktu--satu waktu keberhasilan.

Percobaan-percobaan yang kita lakukan tak ubahnya seperti melempar baru ke lautan yang luas dan dalam. Kita tak pernah tahu kapan batu yang kita lemparkan itu kita temukan jika kita berenang mencarinya. Tapi, percayalah semakin banyak batu yang kita lempar ke dalam lautan maka semakin banyak kemungkinan untuk mendapatkannya jika kita berenang mencarinya, hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah jika kita berenang mencarinya. Maksudnya adalah, kita harus selalu berusaha mencari keberhasilan dalam setiap percobaan.

Jadi, bila sekarang kita masih belum merasakan manisnya keberhasilan, teruslah mencoba. Karena di dalam semua percobaan ada titik kecil keberhasilan, yang bila telah terkumpul menjadi banyak, titik keberhasilan itu akan terliha besar, di saat itulah keberhasilan yang menyertai kita, keberhasilah yang kita pungut dalam waktu lama dari hasil dari tetesab keringat sendiri. Untuk itu kita bukan tidak bisa tapi hanya kita belum mencoba.